Islam Bubuhan Kumai: Antara Mistisme dan Religio-Magis

0
11

Bubuhan Kumai adalah sebuah kumpulan dari beberapa kekerabatan yang kemudian membentuk sebuah komunitas besar karena adanya kesamaan suku dan agama, yang mendiami wilayah Kecamatan Kumai dan merupakan bagian dari kecamatan yang ada di Kabupaten Kotawaringin Barat, Propinsi Kalimantan Tengah.

Islam Bubuhan ini dapat dipilah menjadi tiga kelompok: Awam, Nahu, dan Hakekat. Masing-masing kelompok memiliki ekpresi keagamaan dalam pemikiran, tindakan atau perbuatan, dan kepengikutan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Kelompok Awam cenderung mencampuradukkan agama dengan tradisi-tradisi lama, seperti adanya kepercayaan terhadap makhluk-makhluk halus yang diyakini memiliki kekuatan mistis; kelompok Nahu menekankan praktek-praktek keagamaan yang mendasarkan pada al-Qur’an, hadits, dan pendapat ulama Ahlussunnah waljama’ah; sedangkan kelompok Hakekat menekankan aspek batiniyah dalam beragama. Ketiga kelompok itu mengaku sebagai pengikut Ahlussunnah waljama’ah.

Oleh karena masyarakat Bubuhan Kumai terbentuk berdasarkan kesamaan agama dan asal-usul nenek moyang, maka dalam sistem beragama mereka memadukan prinsip agama dengan budaya lokal yang kemudian menyatu sehingga sulit untuk membedakan antara agama dan tradisi. Percampuran ini dapat terlihat dari adanya upacara nyanggar dan babarasih banua. Kedua upacara ini semula adalah milik orang-orang dayak, yang kemudian diadopsi oleh orang-orang Kumai dengan beberapa penyesuaian dengan ajaran Islam. Sealin itu, orang-orang Kumai juga memercayai adanya makhluk halus khas lokal Bubuhan Kumai, makhluk-makhluk halus dianggap memiliki hubungan kerabat dengan manusia. Terdapat istilah-istilah khusus untuk menyebut makhluk-makhluk halus di Bubuhan Kumai, yaitu gegana, pedatuan, gambaran, Urang Gaib, dan Hantu Laut. Bagi Bubuhan Kumai, adanya makhluk gaib dianggap sebagai konsekuensi logis dari adanya makhluk fisik. Tidak ada makhluk yang merupakan entitas yang berdiri sendiri / memiliki kekuatan sendiri.

Menyangkut cara pandangan kepercayaan masyarakat terhadap Tuhan dan Makhuk Halus, terbagi dalam tiga kelompok di atas. Kelompok Awam menyadari pentingnya Allah dalam kehidupan, keterlibatan Allah dalam mengatur rejeki mereka, karena itu mereka menanamkan ketuhanan kepada anak-anaknya;  kelompok Nahu menggambarkan Allah melalui dua saluran, yaitu melalui nama-nama Allah yang indah (al-asma’ al-husna) sebanyak 99 nama, dan melalui sifat-sifat wajib, mustahil dan jaiz yang dikenal dengan sifat-sifat Allah sebanyak 20 sifat. Sedangkan kelompok Hakekat memandang bahwa sifat-sifat Allah itu juga terdapat pada diri Muhammad. Sebab Allah dan Muhammad selalu bersatu dan tidak boleh dipisahkan. Muhammad dianggap seperti ‘bayang-bayang’ Allah di dunia ini, sehingga apa yang menjadi kehendak Allah termanifestasi pada diri Muhammad.

Bagi Muslim Bubuhan Kumai, al-Qur’an dan mantra terkadang hidup berjarak, tetapi kadang berdampingan. Kelompok Nahu berpandangan bahwa al-Qur’an adalah firman Tuhan yang sakral dan tidak boleh dicampuradukkan dengan mantra yang profan. Sedangkan kelompok Hakekat dan Awam biasa mengamalkan formula-formula mantra yang selalu didahului oleh surat atau bagian dari surat al-Qur’an. Namun adakalanya kelompok Nahu juga mengkombinasikannya. Mereka berpandangan bahwa islami-tidaknya sebuah mantra bergantung formulanya, jika didahului basmalah atau surat al-Fatihah, berarti tidak bertentangan dengan Islam. Memang salah satu cirikas Muslim Bubuhan Kumai ini bahwa mantra-mantranya sangat diwarnai oleh perbendaharaan kata dari ajaran Islam. Perbendaharaan kata Islam ini tampaknya lebih kuat daripada isi/kandungan mantra yang dirumuskan Muslim Jawa.

Adapun tipologi keislaman yang diekpresikan oleh Muslim Bubuhan Kumai (Awam, Nahu, dan Hakekat) merupakan Islam akulturatif-sinkretik sebagai hasil konstruksi bersama antara agen (elit-elit lokal) dengan masyarakat dalam sebuah proses dialektika yang terjadi secara berkesinambungan, yakni mengadopsi unsur lokal yang tidak bertentangan dengan Islam dan menguatkan ajaran Islam melalui proses transformasi secara terus-menerus dengan melegitimasinya berdasarkan teks-teks Islam yang dipahami atas dasar interpretasi elit-elit lokal. Hanya saja penulis masih menemukan unsur lokal yang bertentangan dengan ajaran Islam yaitu pembuatan rajah dan wafak untuk menyelamatkan dari balak yang diturunkan Allah. Pembuatan dan pemakaian rajah dan wafak ini rawan sekali merusak keimanan orang-orang Muslim Bubuhan Kumai tersebut. [disarikan dari berbagai sumber]