Kurindukan Tradisi Lebaran, Mudik dan Kupatan

tradisi lebaran

Beragama (Islam) itu sejatinya adalah ma’rifatullah
Mengenal Allah SWT dengan sifat Rahman dan Rahim Nya
Sifat Allah SWT yang penuh kasih sayang – welas asih
Welas asih yang bisa terwujudkan dari SILATURAHIM
SILATURAHIM yang berartikan menjalin dan menciptakan kasih sayang
Kasih sayang yang menghadirkan kebahagiaan hati bagi sesama.

Read More
Haidar Bagir

Pergeseran Silaturrahim

[DINUN.ID] Potongan penjelasan makna Silaturahim yang saya ambil dari penjelasan Dr. Haidar Bagir, seorang cendekiawan Muslim yang identik dengan penerbit buku Mizan ini, menekankan bahwa Silaturahim merupakan tautan ihtiar yang akan mempertemukan hakikat sifat welas asih Tuhan yang diimplementasikan dalam kehidupan bersosial makhluk yang namanya manusia.

Silaturahim jika dimaknai sebagai upaya menjalin tali kasih antar manusia, maka maknanya sangat luas. Tidak hanya berhenti pada tindakan saling bertemu atau mengunjungi satu sama lain. Yang paling penting adalah adanya koneksi, adanya kesamaan frekwensi, adanya kesamaan rasa antar satu dengan yang lain, sehingga bisa menciptakan rasa memanusiakan satu dengan yang lain.

Dengan perkembangan teknologi saat ini, koneksivitas yang menciptakan kesamaan rasa itu bisa dengan mudah diwujudkan. Tidak mengenal lagi akan adanya batas waktu dan jarak tempuh, setiap saat dan dimanapun kita bisa lakukan jika kita menginginkan. Bahkan peluang untuk menambah jejaring lebih besar juga bisa didapatkan melalui bantuan media teknologi ini. Orang sekarang menyebutnya sebagai jejaring media sosial.

Apakah silaturahim dengan mediasi teknologi lantas akan dengan mudah menggantikan model silaturahim dengan media langsung bertemu? Saya kira masih sangat jauh. Meskipun tujuannya mencari persamaan rasa, tetapi jelas akan beda rasa nya. Media silaturahim langsung akan banyak menciptakan suasana kebatinan baru, baik itu dikarenakan oleh efek menggali memori masa lalu atau bahkan sama sekali pengalaman baru yang dimunculkan.

Bagaimana gambaran ungkapan perasaan orang tua yang sudah lama tidak bertemu anak-anaknya  ketika bertemu langsung? Bagaimana saudara sekandung saling bertemu dan menggali memori ketika bermain bersama di masa kecil? Bagaiman teman kampung atau sekolah bertemu kembali dan saling bercerita akan status kehidupan sekaligus keluarga barunya? Padahal sebenarnya, semua itu bisa dengan mudah dilakukan dengan bantuan teknologi melalui misalnya video call, skype, zoom call, atau whatsapp call. Memang itu juga sudah dilakukan, tetapi rasanya tetap beda.

Mudik untuk Semua

Apalagi jika momen kunjungan langsung –silaturahim makna sempit- itu dilakukan dan dikemas dalam momen tradisi mudik lebaran. Akan sangat terasa berbeda makna rasanya. Ada dorongan secara komunal yang khas milik orang Indonesia jika merayakan Idlul Fitri. Dorongan ini menjadikan virus positif yang menular ke hampir semua pelosok sendi kehidupan masyarakat Indonesia tak terkecuali non muslim, yang ikut juga merasakan hiruk pikuknya tradisi mudik ini. Ada multiplier effect yang sangat besar dirasakan oleh semua kalangan, minimal ikut kecipratan berkah libur panjang, sehingga mereka memiliki waktu refreshing bersama dengan keluarga, yang ujungnya mereka secara sadar atau tidak ikut merasakan kebahagiaan hati.

Mudik lebaran adalah tradisi kuat masyarakat Indonesia, oleh karena disebut sebagai tradisi maka hal itu akan terus dilakukan secara berulang ulang. Kenapa dilakukan secara berulang ulang, karena masyarakat Indonesia tidak pernah merasa bosan atau bahkan terpaksa melakukan tradisi tersebut, bahkan tradisi ini merupakan salah satu puncak tradisi spiritual yang berimplikasi besar bagi kehidupan masyarakat baik secara ekonomi dan sosial.  

Berbagai persiapan dilakukan menjelang tradisi mudik ini dilakukan, baik dari segi fisik dan keuangan tentunya. Yang paling unik untuk diceritakan adalah betapa besar upaya para pemudik untuk menyisihkan uang dari segala sumber agar mereka bisa mudik lebaran, bahkan pada sisi yang ekstrim sekalipun harus dilakukan dengan berhutang. Waooo…kenapa bisa ini sampai berhutang ini dilakukan? Jawabannya tidak bisa hanya dihubungkan dengan perhitungan kalkulator rasional. Ada semacam kaidah sederhana bagi mereka, bahwa keyakinan akan tergantikan nomboknya materi/biaya yang dikeluarkan dengan kebahagiaan hati jika bertemu dengan semua sanak saudara.

Kebahagiaan hati inilah yang mereka sengaja cari untuk menjadi bekal mereka sekembali dari mudik. Ada semacam ritual “recharge of soul” atau pemulihan jiwa melalui sambung doa yang diberikan oleh para sanak kerabat yang akan dijadikan pendorong semangatnya pemudik mengais rejeki di rantau. Keyakinan ini menjadi masuk nalar karena ada dawuh nya Rasulullah yang menyatakan bahwa; “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rejeki dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahim”.

Kupatan, Sarat dengan Filosofi

Sambung silaturahim dalam mudik lebaran ini juga identik dengan tradisi ketupat. Tradisi ini melekat erat dengan mudik lebaran, karena sudah menjadi kebiasaan bahwa “selesainya” tradisi berkunjung untuk bermaaf maafan sudah habis seminggu setelah sholat idlul fitri –meskipun masih bisa dilanjut sepanjang bulan syawal sih-, dan juga sebagai penanda mereka harus kembali ke rantau masing masing.

Uniknya juga, tradisi ketupat yang ditandai dengan makan atau dibagikannya ketupat memiliki makna yang syarat dengan pesan moral. Pesan tersebut erat kaitannya dengan prekondisi seseorang yang harus disiapkan sebelum melakukan silaturahim dan mendapatkan permohonan maaf dari sesamanya, terutama dari yang lebuh tua.

Ketupat dalam filosofi jawa diartikan bahwa Ketupat/Kupat merupakan singkatan kata dari Ku (ngaku) dan Pat (lepat). Maknanya adalah  mengakui segala kesalahan yang telah dilakukan untuk kemudian meminta maaf terutama kepada yang lebih tua. Tradisi ini terartikulasi dalam tradisi sungkeman. Ngaku Lepat (Kupat) saya katakan sebagai prasyarat penting, karena sebagai manusia yang memiliki kodrat akan salah dan khilaf harus secara sadar penuh mengosongkan isi hati dan kepala dari segala keangkuhan, sehingga akan dengan mudah berpasrah untuk mengakui segala kesalahan dan kekhilafan. Akan dengan mudah meminta maaf dan memaafkan, sehingga kembali dalam kondisi suci atau bersih atau fitri.

Setelahnya, kondisinya akan menjadi 0-0 alias kosong kosong. Isi hati menjadi lebih bersih dan kembali ke rantau dengan tenang dan bahagia, selanjutnya akan dimudahkan dalam mencari rejeki sebagai bekal untuk kembali lagi datang pada masa mudik lebaran dan kupatan tahun depan.

Cerita tentang tradisi ini pasti akan sangat kita rindukan. Karena saat pandemi yang masih belum berlalu, maka tradisi ini hanya bisa kita angan angan, meskipun melalui cerita yang saya tautkan dalam tulisan ini.

Mohon maaf lahir dan bathin…

————————————————————————————————————–

Oleh Muhammad A Nasir.
Kolumnis dan Penulis buku “Meruwat gagasan, merawat empati dan kemanusiaan”

Related posts